Bersiaplah, Sekolah Agama, Banyak Setannya
Tulisan ini ditujukan bagi para pelajar di sekolah agama, pelajar yang telah memilih untuk mendalami ilmu agama khususnya di perguruan tinggi, agar mempersiapkan dan sadar diri terhadap kerumitan hati dalam mengarungi perjalanan keilmuannya.
Papa saya, Zul Efendi, pernah menceritakan salah satu kenangan pendidikannya dalam menuntut ilmu agama. Dahulu, sewaktu SD, Papa sudah menunjukkan kepandaian membaca al-Qur'an, meskipun ia belum tamat mengaji (sejenis MDA). Oleh Amaknya, Syamsinar, beliau disuruh berhenti saja mengaji, dan selanjutnya beliau akan dimasukkan ke MTI Canduang. Niatnya, agar kelak ada dari anak beliau yang menjadi orang Siak. Di antara saudara-saudara beliau, memang beliaulah satu-satunya yang akhirnya menempuh pendidikan agama (beliau anak ke-4 dari 5 bersaudara).
Beliau menempuh pendidikan juga di Canduang. Di tengah pendidikannya, beliau punya fikiran untuk pindah sekolah ke STM (sejenis SMK). Fikiran tersebut tidak hanya dimiliki oleh beliau saja, tapi juga oleh seorang teman beliau. Akhirnya, beliau dan temannya, keduanya sama-sama bersepakat untuk pindah sekolah ke STM. Niat tersebut, disampaikan kepada Amak beliau. Amak marah dan mengancam, kalau beliau tidak mau lanjut sekolah di Canduang, tidak usah sekolah saja sama sekali, tidak akan dibiayai sama sekali, dan beliau disuruh langsung "manggaleh" saja!. Mendengar hal tersebut, beliau pun mengurungkan niat pindah sekolah, dan tetap melanjutkan pendidikan di Canduang. Sayangnya, teman beliau yang seorang tadi benar-benar pindah ke STM, meski setelah bertengkar dengan Mamaknya. Sejak saat itu, beliau tidak pernah bertemu dengan teman tersebut lagi. Hanya saja, beliau sempat bertemu dengan Amak dari temannya itu di Pasar Banto. Melihat Papa saya yang masih lanjut sekolah di Canduang, Amai-Amai tersebut menggenggam tangan Papa sambil menangis di tengah pasar orang ramai, terbayang seolah Papa sebagai anaknya sendiri. Papa saya, hanya bisa terpaku mendengarkan kesedihan yang mencurah dari Amai tersebut, sebab anaknya tidak mau lagi lanjut sekolah di Canduang.
Alhamdulillah, beliau akhirnya telah menamatkan sekolah di Canduang. Dari segi kepandaian, beliau mengaku berada dalam tiga besar yang terbaik di angkatannya, mungkin nomor dua atau tiga. Setelah tamat Canduang, beliau melanjutkan ke IAIN Imam Bonjol Cabang Bukittinggi di Garegeh jurusan Qadha. Setelah mendapatkan gelar sarjana penuh, beliau ditawari menjadi asisten dosen, yang tentunya beliau terima dengan senang hati. Beliau diamanahkan mengajar mata kuliah ilmu falak, yang pada waktu itu sangat jarang peminatnya, bahkan sangat dijauhi, karena mengajar ilmu falak saat itu hampir seluruhnya benar-benar manual (pakai tabel logaritma semata, mana ada yang namanya kalkulator , amboi). Jika beliau mencoba mengenang kembali masa lalu, beliau kerap bersyukur sebab untung saja beliau dimarahi oleh Amak supaya tidak jadi keluar dari Canduang, sebagaimana yang pernah ia rencanakan ketika masih belia dulu. Demikianlah sebagian kecil kisah Papa dalam menuntut ilmu agama.
"Banyak setan di sekolah agamo", demikian candaan yang ia sampaikan. Ia memaknakan bahwa ada saja kesulitan dan hambatan yang membuat pelajar agama yang awalnya telah memiliki niat, dan memiliki tekad yang kuat pada awalnya, namun akhirnya terpesong niatnya, timbul keraguan di hatinya, lantas berhenti dan meninggalkan jalannya hanya karena bosan atau alasan tak jelas lainnya. Pada dasarnya, setiap pelajar dari segala bidang ilmu pasti akan menemui hambatan dan ujian dalam studinya, namun terkait ilmu agama kesulitannya agak lain dan tak biasa, bisa jadi lebih banyak setannya. Lantas bagaimana selanjutnya? Apakah jika banyak setan, lalu kita harus takut dan lari? Tidak, agama kita mengajarkan untuk bersikap keras kepada setan, lawan!, pukul! Sampai ia KO! Maka, hambatan-hambatan tersebut, ketimbang dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, haruslah dianggap sebagai tantangan. Ia merupakan ujian yang bila dilewati dapat mengantarkan kita kepada maqam yang lebih tinggi.
Kita bisa memperhatikan tren pendidikan agama di Indonesia. Bagaimana masyarakat menyikapi lembaga pendidikan agama? Bagaimana para peserta didik memandang ilmu agama? Bagaimana negara menentukan sukses tidaknya lembaga pendidikan agama? Kondisi-kondisi ini merupakan beberapa di antara faktor yang menyebabkan para pelajar agama sering terpesong niatnya, muncul keraguan di hatinya, dan mengikuti kehendak semu semata.
Sebagian kalangan, beranggapan bahwa lembaga pendidikan agama adalah tempat daur ulang pelajar terbuang, yakni pelajar yang lemah secara intelektual, dan juga pelajar yang kebablasan secara moral. Lemah matematika? Lemah bahasa Inggris? Lemah fisika? Tak apa, masuk saja sekolah agama. Tidak perlu pintar untuk masuk ke sana. Yang penting tetap bisa melanjutkan sekolah, tetap bisa punya ijazah, meskipun niat untuk mendalami ilmu agama itu sendiri mungkin tidak ada. Kedua, pelajar yang kebablasan secara moral. Orang tua yang memiliki anak yang nakal, berharap ke sekolah agama agar anak mereka dapat diperbaiki akhlaknya.
Pada dasarnya, tidak ada yang salah dari menerima murid yang lemah secara intelektual untuk belajar agama, sebab kita semua tak terlahir langsung pintar. Ilmu itu dari Allah, dan Dia-lah yang menentukan siapa yang akan dibukakan fikirannya kepada ilmu. Akan tetapi, yang menyebabkan masalah adalah stigma yang menganggap ilmu agama sebagai ilmu kelas remeh. Ilmu agama biarlah dipelajari oleh mereka-mereka yang lemah intelektualnya itu. Sementara pelajar-pelajar cerdas baiknya masuk ke sekolah prestis mempelajari sains, teknologi, dan ilmu eksak lainnya. Stigma ini juga melekat pada guru dan masyarakat. Orang-orang lebih bangga jika anaknya masuk perguruan tinggi umum favorit, dibandingkan masuk lembaga pengkajian agama. Guru pesantren bahkan lebih bangga santrinya lulus masuk universitas umum prestis, dibandingkan melanjutkan studi ke Ma'had Aly yang masih di ponpesnya yang sama. Ini merupakan kesalahan dalam menilai. Begitu pula tidak ada yang salah dari menerima murid yang bandel selama kecilnya untuk diperbaiki di sekolah agama. Sebab tidak ada yang tau watak akhir hidup manusia, selain Allah. Sebagaimana Sunan Kalijaga yang awalnya merupakan seorang berandalan besar yang kehilangan arah, namun setelah berguru kepada Sunan Bonang, ia menjadi tercerahkan dan menebar kedamaian. Adapun yang menjadi masalah sesungguhnya, adalah stigma dan penilaian bahwa lembaga kajian agama adalah lembaga pembuangan yang secara derajatnya lebih rendah dibanding sekolah favorit. Bahwa seorang yang jenius tidak seharusnya masuk sekolah agama karena akan membuang-buang potensi.
Masalah lainnya adalah memandang sekolah agama secara materi, bahwa sekolah harus bisa membuat murid-murid menjadi orang kaya. Sekolah harus melahirkan para pekerja yang memiliki skill dan laku di pasaran. Lantas, masuk sekolah agama untuk apa? Apa skill yang dimiliki tamatan sekolah agama, selain pandai baca doa atau jadi ustadz? Walhasil, muncul pandangan bahwa sekolah agama itu sia-sia saja, merugikan. Sebab bukan melahirkan pekerja yang punya skill yang mampu menghasilkan rupiah kelak bila telah lulus nanti.
Apa? Anda masih yakin untuk menekuni ilmu agama?, masalahnya belum berhenti. Arus sekularisasi dan liberalisasi mulai merasuki banyak lembaga kajian, melalui gelontoran dana dan bantuan bagi para penelitinya. Bagi mereka yang kurang kuat imannya, bantuan dana dan kemudahan meraih penghargaan adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu. Apa yang bisa dilakukan akan dilakukan. Menyusun dalil agar dapat memvalidasi perempuan menjadi imam bagi lelaki? Bisa. Apa lagi? Memvalidasi bahwa Islam mengakui kebenaran agama lain, bahwa semua agama sama-sama menuju Tuhan dan sama benarnya, lalu menyusun argumentasi dengan menggunakan dalil ayat dan hadits? Juga bisa. Semua itu dijalankan tentu dengan niat mengharapkan imbalan berupa kemudahan mencapai sesuatu yang ingin mereka raih, mulai dari materi atau sekedar mendapatkan panggung penghormatan dan nama besar sekalipun.
Masalah-masalah ini begitu banyak, hingga salah satu peringatan Nabi SAW tentang tanda akhir zaman, bahwa banyak ulama palsu yang sesat dan menyesatkan, tidaklah terlalu sulit untuk dibayangkan.
Meskipun begitu banyaknya setan yang menggoda, bukan berarti kita malah berputus asa. Sekacau-kacaunya dunia ini, selalu akan ada Yang Mengatur dan Memelihara, Dialah Allah. Bahkan timeline Fir'aun yang begitu kacau, diktator, dan adidaya dapat diruntuhkan oleh Allah melalui diutusnya Nabi Musa as yang bahkan tak punya pasukan. Tugas kita, adalah tetap bertahan dan bersabar, memberikan respon yang tepat bagi setiap masalah. Memutuskan dengan keadilan, menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya yang haqq, semampu kita. Andaikan kita tak sabar, rugilah kita. Sebagaimana ruginya Nabi Musa as yang tak mampu menahan kesabaran ketika mendampingi gurunya Nabi Khidir. Andaikan Nabi Musa mampu bersabar, tentulah akan lebih banyak kisah menarik yang akan ia saksikan.
Wahai para pelajar agama, bersabarlah. Itulah baktimu yang sesungguhnya. Semoga Allah senantiasa membimbingmu.
